Tugas Kampus untuk DosenKu Mr. Muhamad Danuri, M.Kom


You are not connected. Please login or register

Artikel tentang pelanggaran hak cipta

Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

1 Artikel tentang pelanggaran hak cipta on Tue May 14, 2013 7:45 pm

admin

avatar
Admin
Artikel tentang pelanggaran hak cipta program komputer diseluruh dunia


dikumpul disini

Lihat profil user http://tugasku.netgoo.org
LANJUOUD:
Jumat, 02 November 2012
contoh kasus penindakan pelanggaran hak cipta software

Jakarta – Penyidik PPNS Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual bersama BSA (Business Software Association) dan Kepolisian melaksanakan Penindakan Pelanggaran Hak Cipta atas Software di 2 tempat di Jakarta yaitu Mall Ambasador dan Ratu Plasa pada hari Kamis (5/4). Penindakan di Mall Ambasador dan Ratu Plaza dipimpin langsung oleh IR. Johno Supriyanto, M.Hum dan Salmon Pardede, SH., M.Si dan 11 orang PPNS HKI. Penindakan ini dilakukan dikarenakan adanya laporan dari BSA (Business Software Association) pada tanggal 10 Februari 2012 ke kantor Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual yang mengetahui adanya CD Software Bajakan yang dijual bebas di Mall Ambasador dan Ratu Plaza di Jakarta. Dalam kegiatan ini berhasil di sita CD Software sebanyak 10.000 keping dari 2 tempat yang berbeda.


CD software ini biasa di jual oleh para penjual yang ada di Mall Ambasador dan Ratu Plasa seharga Rp.50.000-Rp.60.000 sedangkan harga asli software ini bisa mencapai Rp.1.000.000 per softwarenya. Selain itu, Penggrebekan ini akan terus dilaksanakan secara rutin tetapi pelaksanaan untuk penindakan dibuat secara acak/random untuk wilayah di seluruh Indonesia. Salmon pardede, SH.,M.Si selaku Kepala Sub Direktorat Pengaduan, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, mengatakan bahwa “Dalam penindakan ini para pelaku pembajakan CD Software ini dikenakan pasal 72 ayat 2 yang berbunyi barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau brang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan tidak menutup kemungkinan dikenakan pasal 72 ayat 9 apabila dalam pemeriksaan tersangka diketahui bahwa tersangka juga sebagai pabrikan”.
Dengan adanya penindakan ini diharapkan kepada para pemilik mall untuk memberikan arahan kepada penyewa counter untuk tidak menjual produk-produk software bajakan karena produk bajakan ini tidak memberikan kontribusi kepada negara dibidang pajak disamping itu untuk menghindari kecaman dari United States Trade Representative (USTR) agar Indonesia tidak dicap sebagai negara pembajak.


CONTOH KASUS YANG KE 2

Mengindikasikan sedikitnya ada 17 orang, termasuk staf dari Microsoft Corp. dan dua orang Eropa, yang diduga melanggar copyright terhadap lebih dari 5.000 software komputer. Dua belas di antaranya merupakan anggota kelompok yang menamakan dirinya pirates with attitude (PWA). Kelompok ini, merupakan jaringan pembajakan software yang dicari-cari pemerintah Amerika tahun lalu. Web site mereka diidentifikasi oleh pengadilan sebagai sentinel atau warez, yang berlokasi di sebuah komputer yang disimpan di University of Sherbrooke di Quebec. Dan semua software yang disediakan di komputer ini diberi copy protection oleh para anggotanya. Semua program (sistem operasi, program aplikasi seperti pengolah kata dan analisis data, game, serta file musik MP3 disediakan untuk di-download melalui akses khusus yang dirahasiakan.
Sementara empat staf dari Santa Clara, basis Intel di California, memberikan sejumlah hard disk berkapasitas besar ke situs ini di Kanada pada tahun 1998. Atas perlakuan ini, mereka dan staf Intel lainnya yang ikut memberikan akses ke software bajakan, 15 di antaranya sudah ditahan. Beberapa staf Microsoft Corp. di Redmond, Washington juga diduga kuat menyelundupkan sejumlah software kepada situs sentinel atau warez ini. Caranya, PWA diberikan akses ke jaringan internal Microsoft. Jika terbukti, para tersangka harus mendekam lima tahun di penjara dan diharuskan membayar denda US$250.000, atau diharuskan membayar dua kali lipat dari kerugian perusahaan, yang berarti jauh lebih besar.

sumber : http://www.dgip.go.id/penindakan-hak-cipta-atas-software[/com





Terakhir diubah oleh DONY KHAEROMAN tanggal Fri May 17, 2013 9:30 am, total 1 kali diubah

Lihat profil user

3 Artikel Pelanggaran HAKI on Wed May 15, 2013 9:47 pm

klik:
Minggu, 20 januari 2013

Pembajak HAKI Teroris Ekonomi Gaya Baru

PEMBERANTASAN tindak pidana pembajakan dan pemalsuan piranti lunak (software) komputer, musik dan film di Indonesia kini menghadapi kendala baru, apalagi selama ini,proses hukum terganjal oleh minimnya sosialisasi dan penindakan oleh aparat kepolisian dan vonis yang dijatuhkan kepada pelakunya terkesan main - main.

Sebagai contoh, pada 2010 lalu Manajer Tekhnologi Informasi PT Kedaung Industrial (Anaka perusahaan Kedaung Grup), Indramin Darmadi, hanya divonis hukuman enam bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun serta denda Rp 10 juta oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta. Terdakwa sengaja menggunakan produk Microsoft, Adobe, Symantec dan Corel dengan hanya membeli satu CD asli lalu menggandakannya. Terdakwa juga membeli software bajakan dengan harga murah tanpa membayar pajak kepada negara.

“Mana mungkin mereka akan jera ,bila hukumannya terlalu ringan? Mestinya mereka di hukum penjara maksimal lima tahun dan denda lima ratus juta rupiah seusai dengan Undang-Undang No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, hingga ada efek jeranya,” kata Timothy Haston, pegiat anti pembajakan untuk kawasan Asia, dari Lousiana,Amerika Serikat kepada Entitas Hukum Indonesia. Sumber di FBI bidang pemba­jakan software,musik dan film, menyebutkan dengan minim­nya vonis terhadap pelaku kejahatan intelektual, membuka peluang bagi sindikat baru untuk meneruskan jejak seniornya melakukan aksi yang sama.

“Karena mereka beranggapan, ketika tertangkap dan kasusnya digelar dipengadilan vonisnya tidak berat dan bisa dinegosiasikan. Terbukti hingga kini, belum ada pelaku kejahatan intelektual di Indonesia yang divonis sesuai dengan Undang-Undang No. 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, di penjara lima tahun lalu didenda Rp 500 juta,sesuai dengan Pasal 72 ayat 3,” cetus Cipta Wiryawan, SH,MH praktisi hukum dan pegiat anti pembajakan dari Indonesia Bersih anti Pembajakan (IBAP) kepada SM Akbar dikantornya.

Pasal 72 ayat 3 Undang-Undang No.19 tahun 2002 mestinya membuat pelaku kejahatan intelektual terutama hak cipta di berbagai bidang bisnis, termasuk industri software komputer, musik dan film merasa jera. Upaya Kepolisian dan Kejaksaan mengajukan kasus pelanggaran hak cipta software komputer ke pengadilan kerap terganjal vonis hakim yang terlalu ringan.

Para pelaku pembajakan sudah tahu, siapa saja yang bisa diajak negosiasi dan berkompromi untuk usaha ilegal mereka dan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk para oknum bisnis pembajakannya tetap lanaggeng,” ungkap Henky, se­orang distributor musik dengan nada tinggi.

Maraknya peredaran DVD dan VCD bajakan menunjukan bahwa produsen ilegal memiliki jaringan yang kuat ke berbagai lini hingga pabrik bajakan mereka ‘nyaman’ memproduksi tanpa tersentuh hukum. Semisal enam pabrik di Tangerang yang dikuasai dua kelompok, sampai kini belum mampu dipreteli penegak hukum. Tiga pabrik berada dalam satu komplek pergudangan di jalan Raya Perancis, Benda, Tangerang. Tiga lainnya di Dadap, Ciledug, dan Ciputat.

“Setiap pabrik mampu memproduksi 60 ribu sampai 100 ribu keping film atau pun musik setiap hari. Dan pendapatan mereka bisa mencapai 60 sampai 70 miliar per bulannya. Itu belum termasuk bila ada pesanan film yang dianggap box office dipasaran. Makanya, pabrik seperti itu banyak dekat dengan oknum tertentu biar usahanya lancar dan tidak diganggu,” jelas sumber Entitas Hukum Indonesia yang keberatan ditulis namanya.

Tingkat pasar DVD/VCD bajakan selama tahun 2012 meningkat tajam, mencapai 80 sampai 90 persen dengan harga perkeping Rp 5000,- Rp 7000. “Tapi kalau beli sepuluh dapat bonus satu mas, kalau harga pokoknya sekitar Rp 1.250 sampai Rp 1.500 per keping dari pabriknya. Kalau jual DVD orisinal atau VCD-nya, untung kami sedikit ,karena harganya terlalu mahal tidak terjangkau semua pembeli. Film orisinal dari harga Rp 15.000 hingga Rp 75.000, bahkan ada yang Rp 150.000,” jelas, Rizal salah satu pedagang DVD film bajakan dibilangan Glodok Plaza.

”Biasanya master film dikirim via internet dengan cara diretas,atau membeli di jaringan internet ke­mudian dikirim ke negara tujuan. Dan film yang dipi­lih biasanya yang memiliki nilai jual tinggi dan film terbaru yang belum tayang di bioskop Indonesia,” lanjut sumber ini, serius.



Software Bajakan Rugikan Negara Rp 12,8 Triliun

Pada 2009 lalu, Donny Sheyoputra dan para peng­acara dari Business Software Alliance (BSA) telah diminta menjadi saksi ahli untuk 23 kasus pembajakan software di berbagai wilayah di Indonesia. BSA sendiri merupakan organisasi perusahaan multi­nasional dan lokal yang memproduksi software komputer yang berkantor pusat di Washington DC,Amerika Serikat. Dalam setiap kesaksiannya di pengadilan, para pengacara BSA ber­ulangkali meningatkan tingginya kerugian akibat pelanggaran hak kekayaan intelektual yang kasusnya dinilai sama pentingnya dengan kasus narkoba dan pembunuhan.

“Dari catatan anggota BSA, pemerintah Indonesia dirugi­kan sebesar USS 544 juta dalam potensi pajak dan peluang bisnis akibat pelanggaran hak kekayaan intelektual komputer selama tahun 2009. Kerugiaan diduga mencapai USS 600 juta,” ungkap Donny
“Berdasarkan Interntional Data Corporation (IDC) yang di­siarkan pada April 2012, Indonesia masih menempati peringkat ke sebelas dengan jumlah peredaran software bajakan sebesar 86 persen, dengan nilai kerugian 1,46 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp 12,8 triliun,”ungkap Sekjen Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan,Justisiari P Kesumah.

Untuk mengantisipasi pelanggaran tersebut, Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) menggandeng Mabes Polri dan Ditjen Hak Kekayaan Intelektual kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia menggelar ‘Program Mal IT Bersih’ dari pembajakan software. Program tersebut digelar disejumlah kota besar di Indonesia, seperti Yogyakarta, bandung, Sema­rang, Medan dan Semarang, pada Juli sampai November 2012 lalu. “Pelanggaran hak cipta ini tidak saja menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga menurunkan kreativitas, dan menurunkan kepercayaan dari negara-negara pro­dusen,” kata Direktur Penyidikan Ditjen Hak Keka­yaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM Mu­hammad Adri, dengan nada prihatin.

“Mungkin sistem peradilan di Indonesia sudah saatnya menerapkan sanksi secara proporsional untuk kasus pembajakan software, seperti sanksi denda sesuai dengan tingkat kekayaan yang dimiliki pelaku pembajakan berkat usahanya. Selain itu pembajak film ataupun musik juga,sudah saatnya diberikan efek jera dengan vonis berat sesuai un­dang-undang hak cipta dan undang-undang per­filman. Bukan sebaliknya, vonis ringan,” tandas Cipta Wiryawan.

Langkah penertiban dan penindakan sering dilakukan aparat penegak hukum, tetapi praktik pembajakan tetap berlang­sung. Bahkan, untuk mengantisipasi semakin derasnya praktik pembajakan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) , pada 2003 lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa Nomor 1 Tahun 2003 tentang Hak Cipta dan Fatwa Nomor 1/MUNAS VII/MUI/15/2005 tentang HAKI.

“Setiap bentuk pelanggaran terhadap hak cipta, merupakan kezaliman yang hukumnya haram,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ma’ruf Amin ketika itu. Dalam butir pertimbangannya, MUI memandang bahwa praktik pelanggaran hak cipta sudah mencapai tahap yang meresahkan.

“Hai orang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan per­niagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu,”. Selain itu, surat As-Syu’ara ayat 183 Allah berfirman,” Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan,”.
“Jika sudah begitu mestinya vonis bagi pelaku kejahatan intelektual harus menimbulkan efek jera, bukan sebaliknya loyo. Pasal 72 ayat 3 Undang-Undang N0. 19 tentang Hak Cipta dan fatwa Ulama sudah ada dan jelas bunyinya, lalu menunggu apalagi ?,” tegas Delliyan Zulkarnain, pengamat HAKI bidang film. *



sumber:

Lihat profil user

4 Tugas pelanggaran HAKI on Thu May 16, 2013 7:41 pm

Nokia Gugat Apple atas 46 Butir Pencurian Hak Cipta.

Setelah perseteruan dengan Samsung, juga tuduhan pelacakan lokasi user melalui location data di iPhone dan iPad 3G, kini Apple harus pula menghadapi Nokia.

Awal Mei 2011 ini Nokia telah mengajukan gugatan atas Apple ke pengadilan wilayah Wisconsin. Nokia melaporkan ada 5 hak ciptanya yang dianggap telah dicuri oleh Apple dan digunakan pada iPhone dan iPad 3G. Dalam gugatannya Nokia menyebutkan adanya penggunaan tanpa ijin teknologi untuk transmisi suara dan data menggunakan positioning data yang ada di tiap aplikasi. Juga, temuan Nokia berupa konfigurasi antena milik mereka yang digunakan di produk Apple. Konfigurasi antene tersebut mampu mengoptimalkan performa dan memperkecil ruang. Teknologi itu kemudian berpengaruh pada desain ponsel/tablet sehingga bisa dibuat dalam dimensi lebih kecil dan tipis.

Dan kini Komisi Perdagangan Internasional Amerika (ITC) tengah melakukan penyelidikan ulang terhadap dugaan pelanggaran hak cipta seperti yang telah ditulis Nokia dalam gugatannya terhadap Apple. Sebelumnya di bulan Maret 2011 ITC telah memutuskan bahwa Apple tidak melanggar hak cipta milik Nokia terkait transmisi suara dan data, device positioning, dan konfigurasi antena. Namun untuk saat ini ITC hanya akan menyelidi dua hak cipta saja, dari lima yang telah diajukan Nokia.

Wakil Presiden Nokia bidang kekayaan intelektual, Paul Melin, mengatakan jika pada bulan Maret mereka telah mengajukan 7 gugatan atas Apple, maka sampai Mei ini gugatan tersebut telah menjadi 46 butir (ouch!)


http://apple.gopego.com/2011/05/nokia-gugat-apple-atas-46-butir-pencurian-hak-cipta

Lihat profil user

5 TUGAS PELANGGARAN HAKI on Thu May 16, 2013 8:21 pm

NUR FAIZAH
Spoiler:

*Google harus menyensor kata “torrent”, “Rapidshare” dan “Megaupload”

Isu pembajakan di dunia maya tak pernah benar-benar tuntas. Setelah menghadapi tuntutan atas Megaupload, founder Kim Dotcom kembali hadir mempromosikan Megabox yang konon merupakan reinkarnasi dari Megaupload. Masih seputar isu yang sama, Mahkamah Agung Perancis telah memutuskan bahwa Google harus menyensor kata “torrent”, “Rapidshare” dan “Megaupload” dari pencarian instan dan autocomplete mereka.

Dalam kasus pengadilan yang sedang berjalan dengan kelompok industri musik Perancis, SNEP, Google telah dituduh secara implisit memungkinkan pelanggaran hak cipta karena tidak menyaring kata-kata mereka. SNEP menuduh bahwa ketika pengguna mengetikkan nama musisi terkenal di Google search, situs file-sharing ditambahkan pada fitur autocomplete.

Menurut informasi yang dilansir situs TorrentFreak, Google telah mulai menyaring kata-kata yang berkaitan dengan pembajakan tahun lalu pada fitur autocomplete. Sementara pengguna di seluruh dunia akan melihat “torrent” dan “megaupload” di hasil pencarian, mereka tidak akan melihatnya di layanan autocomplete atau instan.

Google sudah mulai menghapus URL berdasarkan persetujuan. Menurut laporan transparansi yang dirilis bulan Mei, perusahaan mengatakan bahwa mereka telah menghapus jutaan URL yang diduga menyimpan materi dengan hak cipta atau materi bajakan. Mereka mengapus URL berdasarkan permintaan dari pemegang hak cipta.

Ini bukan kali pertama Google menghadapi tuntutan hukum di Perancis berkaitan dengan pelanggaran hak cipta. Pada bulan Mei lalu, raksasa search engine tersebut telah memenangkan kasus hak cipta YouTube, di mana pengadilan memutuskan bahwa Google tidak bertanggung jawab untuk menyaring konten bajakan di YouTube.

SUMBER
http://social-media.gopego.com/2012/07/google-harus-hapus-kata-torrent-dari-autocomplete

Lihat profil user

6 ARTIKEL PELANGGARAN HAKI on Sat May 18, 2013 9:15 pm

Spoiler:
TUNTUTAN APPLE TERHADAP SAMSUNG

Kabar terbaru dari perang hak paten yang dilancarkan Apple terhadap Android mengindikasikan kemenangan Apple yang cukup telak. Berdasarkan laporan situs Gizmodo, pengadilan Belanda telah memblokir semua perdagangan Samsung Galaxy S, Galaxy S II dan Ace di sebagian besar negara Eropa.

Belanda adalah negara yang memiliki pengaruh besar bagi Samsung mengingat negara tersebut merupakan penghubung terbesar untuk mendistribusikan produk-produk Samsung di seluruh Eropa. Karena keputusan pengadilan itu maka secara otomoatis distribusi Samsung Galaxy S, Galaxy S II dan Ace terhenti, kecuali jika Samsung mengubah metode logistiknya.

Hakim memutuskan hal tersebut karena Samsung dianggap telah terbukti melanggar paten Apple dalam metode swipe di photo gallery. Di lain pihak Samsung mengatakan masalah photo browsing itu bisa diatasu dengan modifikasi. Namun apa yang dikatakan Samsung itu justru seolah menjadi pembenaran bahwa mereka telah memakai paten Apple tanpa ijin.

Saat rilis iPhone, Steve Jobs mengatakan bahwa dia telah mematenkan semua yang ada di smartphone tersebut. Dengan demikian, tidak hanya Samsung namun produsen ponsel Android lain secara pasti akan mendapatkan hukuman satu per satu dari pelanggaran hak cipta yang mereka lakukan.

Semua inovasi yang ada di dalam iPhone adalah faktor kesuksesan smartphone kebanggaan Apple itu. Semua fitur dalam touchscreen benar-benar merupakan temuan Apple namun kemudian dengan mudah dibajak oleh lawan-lawannya untuk menciptakan smartphone lain.

Sebenarnya ada banyak hal lain yang bisa dilakukan Google, Samsung atau HTC dari sekedar copy/paste apa yang dimiliki Apple. Semua itu mungkin terjadi karena Microsoft-pun bisa melakukannya tanpa harus mencontek perusahaan lain. Windows Phone 7, contohnya. Ide Microsoft dengan mobile OS tersebut terbukti berbeda dengan iOS milik Apple bahkan di beberapa hal juga lebih baik.

Windows Phone 7 adalah contoh yang baik untuk semua pihak. Perbedaan, metode baru dan evolusi, adalah hal penting yang harus dimiliki developer juga produsen hardware yang tiap hari berkutat dengan teknologi.

Banyak pihak berharap Apple akan memenangkan pertempuran paten ini dan tentu saja sekaligus memenangkan semua haknya.


SUMBER ; http://apple.gopego.com/2011/08/akankah-apple-memenangkan-perang-paten

Lihat profil user

7 Artikel Lisensi on Tue May 21, 2013 7:04 pm

Samsung Gugat Balik Apple - Pelanggaran Hak Cipta


Seperti yang telah Gopego sampaikan kemarin bahwa Apple melaporkan Samsung atas dakwaan pelanggaran hak cipta dan pencurian ide yang merupakan kekayaan intelektual Apple. Itu terkait dengan smartphone dan tablet Samsung Galaxy Series yang dikatakan menjiplak iPhone dan iPad milik Apple.

Senin sebelumnya harian The Wall Street Journal juga melaporkan hal serupa. Galaxy S, Galaxy Tab, Nexus S dan Epic 4G dikatakan sebagai produk yang meniru iPhone dan iPad.

Namun kini yang terjadi adalah sebaliknya. Samsung tidak gentar dengan semua tuduhan itu dan menyerang balik pihak Apple. Chung Jae-woong, juru bicara Samsung mengatakan mereka secara aktif merespon gugatan hukum Apple yang ditujukan pada mereka. Respon itu mereka lakukan melalui jalur hukum juga demi untuk melindungi kekayaan intelektual Samsung.

“Apple adalah salah satu konsumen utama kami. Mereka membeli semiconductors dan display panels dari Samsung. Namun untuk saat ini kami tidak punya pilihan lain selain merespon gugatan mereka juga melalui jalur hukum.”
Lebih jauh Jae-woong mengatakan kalau Apple telah melanggar hak cipta Samsung dalam hal communications standards dan merencanakan untuk menggugat balik pihak Apple atas hal itu.

Lihat profil user

Sponsored content


Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik